BENGKULUTERKINI.ID – Bayangkan bangun pagi dan yang pertama kali kamu lihat adalah notifikasi Instagram, update di TikTok, dan rentetan pesan dari grup WhatsApp. Sebelum benar-benar membuka mata, kepala sudah penuh informasi.
Ini bukan hal aneh bagi Gen Z, begitu ritme hari dimulai. Tapi belakangan, makin banyak dari mereka yang memilih berhenti sejenak. Menghapus aplikasi. Menghilang dari lini masa. Dan memilih diam.
Fenomena ini dikenal sebagai “Social Media Detox” yaitu keputusan sadar untuk menjauh sementara dari dunia maya. Bukan karena sok anti-sosmed, tapi karena lelah. Lelah membandingkan diri, lelah melihat pencapaian orang lain, lelah merasa harus selalu produktif dan “on”.
Burnout digital tidak selalu muncul dalam bentuk ledakan stres; kadang ia datang diam-diam seperti sulit tidur, overthinking, kehilangan fokus, dan rasa hampa setelah scrolling.
Bagi sebagian Gen Z, media sosial tak lagi menyenangkan. Ia berubah jadi medan kompetisi tak terlihat siapa yang paling estetik, siapa paling sibuk, siapa paling sukses di usia muda.
Di balik foto-foto penuh senyum, ada banyak yang menyimpan rasa cemas dan minder, Itulah titik baliknya.
Cuti dari media sosial jadi semacam penyembuhan. Waktu luang yang biasanya habis untuk scrolling kini memanfaatkannya untuk hal lain: baca buku, olahraga, ngobrol langsung.
Mereka mulai sadar, bahwa kehadiran di dunia nyata jauh lebih penting daripada validasi online. Beberapa orang kembali ke media sosial dengan cara yang lebih sehat dan yang lainnya memilih tetap jauh.
Apa pun pilihannya, satu hal jadi jelas, Gen Z mulai berani menolak tekanan digital yang tak perlu. Mereka belajar mendengarkan diri sendiri dan mereka menemukan kembali ruang yang selama ini hilang ruang untuk bernapas.