KOTA MANNA, BENGKULUTERKINI.ID– Kondisi Muara Sungai Air Manna kembali menjadi sorotan setelah pendangkalan dan abrasi kian memperparah aktivitas nelayan yang ingin ke tengah laut di Bengkulu Selatan. Suara ombak yang menghantam tepian muara dan pasir yang terus bergeser selama bertahun-tahun membuat masyarakat pesisir hidup dalam kecemasan. Setiap hari, para nelayan bertaruh nyawa saat keluar dan kembali dari laut.
Situasi ini mendorong Wakil Ketua II DPRD Bengkulu Selatan, Dodi Martian, S.Hut, MM, angkat bicara. Ia menegaskan bahwa penyusunan APBD tidak boleh lagi terpaku pada pola lama yang hanya mengejar sektor dengan kontribusi ekonomi terbesar.
Menurutnya, meski sektor pertanian menjadi penyumbang utama PDRB Bengkulu Selatan, perhatian terhadap masyarakat nelayan tidak boleh diabaikan. Di balik perahu-perahu kayu dan gelombang yang tidak menentu, ribuan warga pesisir menggantungkan hidup mereka.
“Pemerintah harus melihat secara utuh kondisi masyarakat kita. Nelayan juga punya hak yang sama untuk diperhatikan,” ujar Dodi, politisi Golkar, kepada BE, Jumat (21/11/2025).
Dodi menyebut arah pembangunan daerah seharusnya selaras dengan kebijakan nasional, termasuk Program Kampung Nelayan yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan bahwa APBD 2026 harus benar-benar mengakomodasi kebutuhan masyarakat pesisir, bukan sekadar formalitas tahunan.











