BENGKULUTERKINI.ID – Pernah merasa terdorong ikut lari hanya karena melihat teman-teman di media sosial posting hasil lari mereka? Atau merasa “ketinggalan tren” saat semua orang di kantor ikut fun run atau daftar race marathon? Kalau iya, bisa jadi kamu sedang mengalami FOMO (Fear of Missing Out).
Meski sering dianggap negatif karena membuat orang bertindak impulsif, nyatanya dalam konteks olahraga, khususnya lari, FOMO bisa berdampak positif bagi kesehatan fisik dan mental. Kok bisa? Simak penjelasannya berikut ini.
1. FOMO sebagai Pemicu Awal Gaya Hidup Sehat
Tidak semua orang punya motivasi internal yang kuat untuk mulai berolahraga. Kadang, dorongan eksternal seperti melihat teman ikut race atau posting hasil lari di Strava bisa menjadi pemantik yang efektif. Rasa tidak mau tertinggal membuat seseorang akhirnya mencoba — dan dari mencoba, bisa berkembang jadi kebiasaan.
Banyak pelari pemula mengakui bahwa mereka mulai lari karena “ikut-ikutan”, tapi justru berkat itu, mereka menemukan manfaat luar biasa dari aktivitas ini.
2. Meningkatkan Konsistensi lewat Komunitas
FOMO dalam lari sering muncul ketika kita tergabung dalam komunitas atau melihat lingkungan sekitar aktif berolahraga. Ini menciptakan tekanan sosial yang sehat — semacam peer pressure positif. Kita jadi lebih termotivasi untuk rutin lari, menjaga jadwal latihan, dan bahkan ikut event lari agar tidak merasa “tertinggal”.
Konsistensi inilah yang menjadi kunci manfaat kesehatan jangka panjang, mulai dari peningkatan stamina, kualitas tidur, hingga kesehatan jantung.
3. Meningkatkan Kesehatan Mental dan Rasa Percaya Diri
Berolahraga secara rutin, termasuk lari, terbukti meningkatkan produksi hormon endorfin yang berperan dalam mengurangi stres dan memperbaiki suasana hati. Ketika seseorang mulai lari karena FOMO, lalu merasakan sendiri manfaat emosionalnya, biasanya mereka akan terus melanjutkan.
Selain itu, berhasil menyelesaikan sesi lari atau event tertentu juga bisa meningkatkan rasa percaya diri. Lama-lama, motivasi bukan lagi karena “ikut-ikutan”, tapi karena menghargai perkembangan diri sendiri.
4. FOMO Bisa Menjadi Gerbang Menuju Tujuan Sehat Lain
Setelah rutin berlari, banyak orang mulai lebih peduli pada pola makan, tidur, dan keseimbangan hidup. Semua berawal dari rasa tidak ingin tertinggal, tapi berkembang menjadi kesadaran akan pentingnya menjaga tubuh. FOMO, dalam hal ini, bisa menjadi pintu masuk menuju transformasi gaya hidup yang lebih menyeluruh.
Memang, terlalu larut dalam FOMO bisa membuat kita mudah tertekan atau merasa tidak cukup baik. Tapi jika dimanfaatkan dengan bijak, FOMO bisa menjadi alat motivasi yang ampuh. Dalam dunia olahraga lari, FOMO sering kali menjadi langkah awal menuju hidup yang lebih sehat, aktif, dan bahagia.
Jadi, kalau kamu merasa “ikut-ikutan” lari hanya karena banyak orang melakukannya jangan merasa malu. Bisa jadi itu awal dari perubahan positif dalam hidupmu.