Yukey Anggraini
Lina menyandarkan punggungnya ke dinding kamar mandi, berusaha menenangkan napas yang tersengal-sengal. Tangannya gemetar memegangi wastafel dingin, sementara bayangan di cermin menatapnya dengan wajah pucat dan mata berkaca-kaca. Serangan panik yang kesekian kalinya bulan ini datang tanpa peringatan.
“Tidak … tidak sekarang,” bisiknya, mencoba mengingat teknik pernapasan yang diajarkan terapisnya.
Dari luar, suara Ibu memanggil, “Lina! Makan siang sudah siap!”
“Sebentar, Bu!” suaranya terdengar lebih tinggi dari biasanya. Ia menyeka air mata dengan cepat sebelum membuka pintu.
Di meja makan, keluarga tampak lengkap. Ayah sibuk dengan dokumen kantor, Ibu menyajikan sayur asam, sementara adiknya, Rian, asyik bermain ponsel.
“Kamu baik-baik saja? Wajahmu pucat,” Ibu menyentuh dahinya.
Lina mengelak. “Hanya kurang tidur. Deadline kampus banyak.”
Ayah mengangkat mata dari dokumen. “Kalau mau sukses harus kuat. Nenekmu dulu bekerja di sawang seharian tetap tidak mengeluh.”
Lina menatap nasi di piringnya. Jika saja mereka tahu…
***
Klinik Psikologi “Sehati” sepi ketika Lina masuk untuk sesi mingguannya.
“Bagaimana minggu ini?” tanya dr. Anindya, terapisnya.
Lina memilin ujung bajunya. “Sama. Serangan panik masih datang. Dan … aku berbohong lagi ke keluarga.”
“Bisakah kamu ceritakan apa yang membuatmu takut jujur pada mereka?”
“Stigma, Dok. Di keluarga kami, gangguan mental itu dianggap aib. Kata Ayah, itu hanya alasan orang malas.” Air mata menetes di pipinya. “Aku takut mereka akan melihatku berbeda … atau lebih buruk, menganggapku gila.”
Dr. Anindya mengangguk paham. “Lina, penyakit mental sama nyatanya dengan penyakit fisik. Kamu tidak memilih untuk merasa seperti ini.”
***
Malam itu, Lina terbangun dengan jantung berdebar kencang. Ia meraih buku hariannya dan mulai menulis:
Hari ini lagi-lagi aku pura-pura baik-baik saja. Tapi sebenarnya aku lelah. Leherku selalu tegang, dadaku sesak, dan kadang aku ingin menjerit tanpa alasan. Aku takut ….
Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka. Rian berdiri di sana dengan wajah khawatir. “Kakak … aku dengar suara terisak,” katanya pelan.
Lina buru-buru menutup buku harian. “Hanya mimpi buruk.”
Rian duduk di tempat tidurnya. “Aku tahu Kakak tidak baik-baik saja. Sejak pulang dari kampus bulan lalu.”
Tanpa disadari, air mata Lina mengalir deras. Rian memeluknya erat.
***
Keesokan harinya, keluarga berkumpul di ruang tamu. Lina menggenggam tangan Rian erat-erat.
“Aku … aku perlu mengatakan sesuatu.” Suara Lina bergetar. “Selama setahun terakhir, aku berjuang melawan gangguan kecemasan dan depresi.”
Ibu langsung beringsut mendekat. “Kenapa tidak bilang dari dulu?”
“Karena aku malu! Aku takut kalian akan menganggapku lemah!” Lina menjerit, semua emosi yang terpendam meluap.
Ayah terdiam lama. Lalu, dengan gerakan lambat, ia meraih album foto. “Lihat ini,” katanya membuka halaman tertentu. Foto seorang wanita muda tersenyum. “Tante Sari. Dia juga berjuang seperti kamu. Dulu keluarga kita salah paham … sampai dia pergi untuk selamanya.”
Mata Ayah berkaca-kaca. “Aku tidak ingin kehilanganmu seperti kehilangan dia.”
***
Proses pemulihan tidak instan. Ada hari-hari di mana Lina tidak bisa bangun dari tempat tidur. Ada saat-saat di mana terapi terasa sia-sia. Tapi sekarang, ada Ibu yang membawakannya teh hangat, Rian yang menemani sesi terapi, dan Ayah yang perlahan belajar memahami.
Di sesi terapi ke-12, dr. Anindya tersenyum. “Kamu membuat kemajuan luar biasa.”
Lina mengangguk. “Aku belajar bahwa kelemahan sebenarnya adalah menyembunyikan luka, bukan memilikinya.”
***
Di acara talkshow kampus tentang kesehatan mental, Lina berdiri di podium dengan tangan sedikit gemetar.
“Nama saya Lina, dan saya seorang pejuang anxiety disorder.” Suara Lina jelas terdengar di ruangan sunyi. “Saya di sini untuk mengatakan: tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja.”
Ketika tepuk tangan bergemuruh, Lina melihat seorang mahasiswi di barisan belakang sedang menangis. Ia tersenyum, tahu bahwa perjalanannya yang panjang kini bisa menjadi cahaya bagi orang lain.
Di hari ulang tahunnya yang ke-23, Lina menerima hadiah dari keluarga – seekor anjing terapi bernama Joy. Saat menggenggam tali ikatnya, ia sadar:
Pemulihan bukan tentang menjadi sempurna. Tapi tentang belajar mencintai diri sendiri – lengkap dengan segala retakannya.(**)
*Penulis adalah bagian dari Klub Pengarang Bengkulu