BENGKULU, BENGKULUTERKINI.ID – Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia mencatat adanya peningkatan signifikan dalam pelayanan rehabilitasi bagi pengguna narkoba di seluruh Indonesia. Setiap tahun, diperkirakan sekitar 30 ribu residen menjalani program rehabilitasi melalui layanan rawat jalan, rawat inap, maupun program rehabilitasi terpadu di berbagai instansi.
Sekretaris Utama BNN RI, Irjen Pol Tantan Sulistyana, dalam kunjungannya ke Rumah Rehabilitasi BNN Provinsi Bengkulu, mengungkapkan bahwa dari total angka tersebut, sekitar 1.500 residen merupakan peserta rehabilitasi yang difasilitasi langsung oleh BNN setiap tahunnya. Tantan menekankan upaya untuk memberikan layanan terbaik.
“Angka ini mencakup seluruh layanan rehabilitasi yang dilakukan BNN maupun lembaga lain. Kami terus berupaya memberikan layanan terbaik berdasarkan kebutuhan masing-masing residen,” ujar Tantan, Senin (17/11/2025).
Menjawab tantangan terbatasnya akses masyarakat terhadap fasilitas rehabilitasi konvensional, BNN kini tengah mengembangkan terobosan baru berupa rehabilitasi virtual atau tele-rehab. Program ini memungkinkan peserta mengikuti sesi pemulihan secara daring tanpa harus hadir langsung ke fasilitas BNN. Dengan tele-rehab, BNN berharap jangkauan pelayanan semakin luas dan mampu menjangkau masyarakat di daerah yang sulit mengakses layanan. Tantan menjelaskan inisiatif digital ini.
“Program unggulan ke depan adalah tele-rehab. Kita laksanakan secara virtual sebagai bentuk peningkatan layanan rehabilitasi,” jelas Tantan.
Selain tele-rehab, BNN juga memperluas program Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM). Program ini melibatkan masyarakat, lembaga lokal, hingga konselor lapangan dalam mendampingi pengguna narkoba melalui proses pemulihan, mulai dari konseling hingga pemulihan sosial. Upaya ini merupakan bagian dari strategi BNN untuk memperbesar jejaring rehabilitasi dan memastikan proses pemulihan dapat berjalan hingga ke level komunitas. Tantan menutup pernyataannya dengan menegaskan pentingnya kolaborasi multisektoral.
“Untuk keluar kita coba libatkan tempat rehabilitasi komponen masyarakat dan IPWL. Ke depan semua harus bersinergi dan berkolaborasi. Pencegahan narkotika tidak bisa dilakukan BNN sendiri,” tutup Tantan.(ANGGI P)












