Dalam hal penjualan, Bapak Fajri mengakui adanya tantangan tersendiri. Kue Tat umumnya banyak pembeli saat perayaan penting, seperti hari raya, pesta pernikahan, arisan, atau dijadikan oleh-oleh khas Bengkulu.
Namun di luar acara tersebut, penjualannya cenderung sepi. Keadaan ini dimulai sejak merebaknya pandemi Covid-19 pada tahun 2019 lalu. “Sebelum masa Covid, kami bisa menghabiskan 15 kilogram santan dalam sehari. Sekarang jauh menurun,” tuturnya.
Tidak hanya penjualan, proses pembuatan kue Bay Tat juga memakan waktu yang tidak sedikit. Prosesnya memakan waktu sekitar 9 jam, dimulai dari pukul 08. 00 hingga 17. 00.
Meski demikian, produk kue Bay Tat dari Toko Ricka cukup awet. Jika disimpan di suhu ruangan, kue ini bisa bertahan hingga dua minggu. Sementara jika disimpan dalam lemari pendingin, dapat bertahan hingga satu bulan, sehingga sangat cocok sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke luar daerah.
Saat ini, Toko Kue Bay Tat Ricka telah memiliki dua lokasi yang terletak di Jalan Dharma Wanita Pematang Gubernur dan Jalan Irian Tanjung Jaya. Kedua lokasi tersebut masih menjadi pilihan utama bagi masyarakat setempat maupun wisatawan yang ingin merasakan rasa asli kue khas Bengkulu.












