BENGKULUTERKINI.ID – Akhlak-Less merupakan istilah yang saya dengar disalah satu channel YouTube 1 Persen. Istilah ini mengungkapkan tentang kurangnya etika generasi zaman sekarang. Akhlak-less kerap kali dijumpai di media sosial berupa bentuk postingan, dan komentar.
Salah satunya adalah postingan yang tidak bermoral dan pengungkapan kata pada komentar yang tidak sesuai dengan umur. Oleh karena itu, saat ini beberapa media sosial salah satunya TikTok membuat peraturan baru dimana pengguna usia di bawah 16 tahub akan di blokir secara otomatis.
Faktor utama yang bertanggung jawab atas agresivitas anak remaja adalah bisa jadi karena kurangnya bimbingan dari orangtua mereka dan menanamkan teknologi baru kepada mereka.
Meskipun kedua orangtua bekerja, anak-anak akan menghabiskan sepanjang hari sendirian dan bermain HP terlebih anak-anak biasanya memiliki HP pribadi . Sementara itu, banyak tayangan kekerasan di media sosial yang berdampak buruk bagi psikologi anak.
Lebih lagi, di dunia materialistis gadget elektronik terbaru mempengaruhi kaum muda. Internet juga menyediakan video yang memberikan cara mendapatkan lebih banyak uang dalam waktu yang lebih singkat.
Dahulu Indonesia terkenal dengan nilai kesopanan masyarakatnya hingga ke mancanegara. Namun saat ini, zaman sudah bergeser dan banyak remaja yang mulai terlihat kurang menjaga tata kramanya baik terhadap orangtua, orang lain yang lebih tua bahkan yang lebih muda.
Berikut ini kami akan membahas penyebab pudarnya nilai kesopanan atau etika di lingkungan remaja berikut ini.
3 Penyebab Pudarnya Etika dan Kesopanan Anak Zaman Sekarang
1. Faktor keluarga
Penyebab pudarnya etika dan kesopanan remaja zaman sekarang pertama adalah faktor keluarga. Keluarga jarang sekali memberitahu atau menerapkan pendidikan usia dini yakni di lingkungan keluarga sendiri seperti bagaimana harus bersikap, menanggapi, dan berprilaku yang dapat membentuk karakter anak.
Hal inilah yang menyebabkan mulai memudarnya sikap menghargai orang lain yang secara tidak langsung bisa berdampak pada hilangnya norma kesopanan, belum lagi bila kondisi diri sedang emosi. Kerap kali kata-kata yang terucap menjadi kurang rumah dan terkesan angkuh. Sehingga muncullah istilah “lihatlah sifat anaknya jika ingin tahu sifat orang tuanya”
2. Faktor teman atau pergaulan
Penyebab lain selain keluarga adalah teman dan pergaulan. Seperti pepatah, apabila kita berkawan dengan penjual minyak wangi akan terkena wangi, dan apabila kita berkawan dengan seorang pandai besi, kita bisa terkena percikan api atau minimal kita akan mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap.
Ketika berkumpul dengan teman-teman tak jarang akan keluar kata-kata kasar dari teman-teman kita, dan itu yang akan melekat pada diri kita. Mungkin kata-kata yang dilontarkan tersebut maknanya sebagai lelucon atau bercanda dengan teman. Namun kerap kali hal ini menjadi kebiasaan yang tertanam, sehingga pada akhirnya hal tersebut menjadi lifestyle bagi remaja.
Bahkan tidak hanya dari ucapan saja, saat ini cara berpakaian yang kerap digunakan remaja saat ini juga turut mempengaruhi nilai kesopanan. Penggunaan pakaian yang cenderung terbuka dan memperlihatkan bagian private saat ini seolah menjadi tren baru di kalangan remaja, sehingga semakin banyak remaja lain yang meniru cara berpakaian tersebut.
3. Faktor media sosial
Saat ini media sosial berperan penting dalam membentuk karakter anak secara tidak langsung. Bukan tanpa sebab, anak zaman sekarang lebih mendengarkan isi media sosial yang sesuai dengan perasaan hatinya.
Hal ini bisa memicu salah persepsi karena anak-anak ataupun remaja belum bisa membedakn yang mana yang baik yang mana yang benar. Seperti contoh pada postingan media sosial banyak anak-anak berkata kasar. Maka dalam dunia nyata hal itu akan dinormalisasi dikehidupan dan menjadi kebiasaan. Padahal hal tersebut tabu untuk dilakukan, akan tetapi mereka akan tetap merasa benar karena saat ini media sosial sudah menjadi patokan dalam pemikiran mereka.
Belum lagi dengan adanya media sosial dunia maya yang memberikan pandangan baru kepada remaja mengenai gaya hidup remaja secara global yang pada akhirnya kerap dicontoh oleh remaja di Indonesia. Seperti bermewah-mewahan, menginap di hotel dengan lawan jenis, pergi ke club malam dan hal lainnya yang secara tidak sadar dicontoh dan diikuti oleh remaja di Indonesia.
Itulah beberapa penyebab dan faktor kenapa anak generasi sekarang banyak yang akhlak-less. Hal ini perlahan akan menjadi kebiasaan yang secara tidak langsung turut mempengaruhi pudarnya nilai-nilai kesopanan di lingkungan remaja.












