“Pembangunan daerah tahun 2026 difokuskan pada penguatan transformasi ekonomi, peningkatan produktivitas sektor unggulan, serta pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Dalam kerangka itu, investasi adalah katalis utama,” ujar Denni.
Namun demikian, Denni mengakui bahwa capaian investasi Bengkulu masih menghadapi tantangan serius. Dari target investasi tahun 2025 sebesar Rp11,5 triliun, realisasi yang berhasil dicapai masih di bawah 50 persen.
Beberapa faktor penghambat yang diidentifikasi antara lain belum optimalnya kesiapan proyek, keterbatasan dokumen pendukung, belum lengkapnya data tata ruang, serta infrastruktur penunjang yang masih perlu diperkuat.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan investasi tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan koordinasi lintas perangkat daerah serta sinergi erat antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota,” tegasnya.
Dalam konteks tersebut, Regional Investment Relations Unit (RIRU) dinilai berperan penting sebagai simpul kolaborasi untuk memastikan proyek unggulan daerah benar-benar siap ditawarkan kepada investor.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, memaparkan gambaran investasi daerah berdasarkan analisis Bank Indonesia. Ia menyebutkan, realisasi investasi Bengkulu pada tahun 2025 baru mencapai sekitar Rp3,03 triliun atau 26,32 persen dari target, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.












