Di meja makan, keluarga tampak lengkap. Ayah sibuk dengan dokumen kantor, Ibu menyajikan sayur asam, sementara adiknya, Rian, asyik bermain ponsel.
“Kamu baik-baik saja? Wajahmu pucat,” Ibu menyentuh dahinya.
Lina mengelak. “Hanya kurang tidur. Deadline kampus banyak.”
Ayah mengangkat mata dari dokumen. “Kalau mau sukses harus kuat. Nenekmu dulu bekerja di sawang seharian tetap tidak mengeluh.”
Lina menatap nasi di piringnya. Jika saja mereka tahu…
***
Klinik Psikologi “Sehati” sepi ketika Lina masuk untuk sesi mingguannya.
“Bagaimana minggu ini?” tanya dr. Anindya, terapisnya.
Lina memilin ujung bajunya. “Sama. Serangan panik masih datang. Dan … aku berbohong lagi ke keluarga.”






