“Bisakah kamu ceritakan apa yang membuatmu takut jujur pada mereka?”
“Stigma, Dok. Di keluarga kami, gangguan mental itu dianggap aib. Kata Ayah, itu hanya alasan orang malas.” Air mata menetes di pipinya. “Aku takut mereka akan melihatku berbeda … atau lebih buruk, menganggapku gila.”
Dr. Anindya mengangguk paham. “Lina, penyakit mental sama nyatanya dengan penyakit fisik. Kamu tidak memilih untuk merasa seperti ini.”
***
Malam itu, Lina terbangun dengan jantung berdebar kencang. Ia meraih buku hariannya dan mulai menulis:
Hari ini lagi-lagi aku pura-pura baik-baik saja. Tapi sebenarnya aku lelah. Leherku selalu tegang, dadaku sesak, dan kadang aku ingin menjerit tanpa alasan. Aku takut ….
Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka. Rian berdiri di sana dengan wajah khawatir. “Kakak … aku dengar suara terisak,” katanya pelan.
Lina buru-buru menutup buku harian. “Hanya mimpi buruk.”
Rian duduk di tempat tidurnya. “Aku tahu Kakak tidak baik-baik saja. Sejak pulang dari kampus bulan lalu.”
Tanpa disadari, air mata Lina mengalir deras. Rian memeluknya erat.






