BENGKULU, BENGKULUTERKINI.ID – Kota Bengkulu saat ini memproduksi sekitar 280 ton sampah setiap hari. Kondisi tersebut
mendorong Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bengkulu memperkuat strategi pengurangan sampah hingga 51
persen, sesuai target yang ditetapkan pemerintah pusat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Kota Bengkulu, Afriyenita, menegaskan pola lama “ambil, angkut, dan buang”
tidak lagi relevan untuk menjawab persoalan sampah perkotaan.
“Kota Bengkulu itu menghasilkan sampah 280 ton per hari. Kita tidak boleh lagi hanya dengan metode ambil, angkut,
dan buang. Harus ada pengurangan dari sumbernya,” ujar Afriyenita, Selasa 17 Februari 2026.
Ia menjelaskan, regulasi pengurangan sampah sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sampah. Dalam aturan tersebut, setiap individu diwajibkan melakukan pengurangan sampah.
“Di undang-undang itu jelas, setiap individu harus melakukan pengurangan sampah. Dan saat ini daerah diberi target
pengurangan volume sampah hingga 51 persen,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, DLH mendorong pemilahan sampah dari rumah tangga. Sampah organik akan diolah
menjadi kompos, sementara sampah anorganik tetap disalurkan ke bank sampah.
Menurut Afriyenita, Pemerintah Kota Bengkulu bersama Wali Kota telah berkomitmen mengalokasikan dana
kelurahan untuk mendukung pengolahan sampah organik.
“Pak Wali Kota sangat konsen terhadap persoalan sampah ini. Nanti dana kelurahan akan diarahkan untuk pemilahan
dan pengolahan sampah organik,” katanya.
Setiap kelurahan nantinya didorong membuat lubang biopori atau sumur resapan sebagai tempat pengolahan sampah
organik. Cara ini diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Selain kompos dan biopori, DLH juga mengembangkan konsep pengolahan sampah organik berbasis maggot. Sampah
organik akan dijadikan pakan maggot, yang kemudian dimanfaatkan untuk budidaya ikan lele.
“Sampah organik diolah jadi pakan maggot. Maggot ini nanti untuk pakan lele. Lelenya bisa dipasarkan, termasuk
untuk mendukung program MBG,” jelas Afriyenita.
Beberapa Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R), termasuk di Sumberjaya, sudah mulai
menerapkan konsep tersebut. DLH terus melakukan komunikasi dan pendampingan agar pengolahan sampah organik
berjalan optimal.
“Di TPS 3R Sumberjaya sudah mulai mengolah sampah organik. Ini akan kita dorong terus agar menjadi
percontohan,” tambahnya.
Dengan strategi pemilahan dari sumber, penguatan peran kelurahan, serta inovasi pengolahan maggot, DLH
optimistis target pengurangan 51 persen dapat dicapai secara bertahap. Upaya ini sekaligus menjadi langkah penting
mengurangi beban TPA dan membangun kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah secara berkelanjutan. (Medi K)











