“Semoga dari tanah Bengkulu ini lahir kopi unggulan yang membanggakan daerah dan dicintai oleh masyarakat luas,” tutup Helmi Hasan.
Sementara itu, Ketua Pokja Kopi Merah Putih, Safnizar, yang juga Kadis LHK Provinsi Bengkulu, dalam laporannya menyampaikan bahwa untuk tahap awal, sebanyak 45.000 pohon kopi Arabika akan ditanam di areal demplot Mangkurajo menggunakan teknologi full organik. Program ini mendapatkan pendampingan langsung dari ahli kopi internasional, Prof. Eggy Mahardika, yang merupakan Ketua Asosiasi Kopi Dunia (ICO).
Berdasarkan data tahun 2026, Provinsi Bengkulu memiliki luas areal persetujuan Perhutanan Sosial (PS) mencapai 53.000 hektare dengan sekitar 18.000 Kepala Keluarga (KK) penerima manfaat. Namun, saat ini baru 20 persen lahan yang tergarap optimal, sementara 80 persen sisanya masih berupa semak belukar dan hutan sekunder.
Dukungan finansial program ini diperkuat dengan alokasi anggaran sekitar Rp25 miliar dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Keuangan melalui kerja sama dengan Pemerintah Norwegia. Dana tersebut diperuntukkan bagi fasilitasi pengembangan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) guna mendukung implementasi FOLU Net Sink 2030.











