Selain itu, angka kematian balita di Bengkulu juga tercatat 23,38 per 1.000 kelahiran hidup, lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 19,83 per 1.000 kelahiran hidup.
“Fakta ini menjadi tantangan bersama. IDAI berharap simposium ini dapat menjadi kontribusi nyata dalam upaya menurunkan angka kematian bayi dan balita, sekaligus mendukung pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030,” tegas dr. Jumnalis.
Dari tingkat pusat, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat IDAI, dr. Hikari Ambaran Syakti, menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam pelayanan kesehatan anak. Menurutnya, penanganan kegawatdaruratan dan deteksi dini penyakit tidak bisa dilakukan secara sektoral, melainkan membutuhkan sinergi lintas disiplin, termasuk pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.
“Dokter anak memiliki peran penting, namun keberhasilan layanan kesehatan anak sangat bergantung pada kerja sama yang solid dengan berbagai pihak,” ujarnya.
Simposium Nasional IDAI Bengkulu secara resmi dibuka oleh Gubernur Bengkulu yang diwakili Asisten I Sekretariat Daerah Provinsi Bengkulu, Khairil Anwar. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan keprihatinan atas meningkatnya kasus penyakit kronis pada anak usia dini, yang berpotensi menghambat pencapaian bonus demografi dan visi Indonesia Emas 2045.











