Tingkatkan konsumsi sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, serta sumber protein seperti telur, ikan, atau kacang-kacangan. Jangan menjadikan jendela makan sebagai waktu untuk makan berlebihan dengan makanan yang tinggi gula dan lemak jenuh.
3. Amati Siklus Menstruasi
Jika saat menjalani intermittent fasting siklus menstruasi menjadi tidak teratur, disertai nyeri berat, atau bahkan berhenti, hal ini bisa menjadi sinyal bahwa tubuh mengalami tekanan. Dalam kondisi ini, sebaiknya tinjau kembali pola puasa yang diterapkan atau bicarakan dengan tenaga kesehatan.
4. Atur Stres dan Cukup Tidur
Kurang tidur dan stres yang berkepanjangan dapat menaikkan kadar hormon kortisol. Jika dikombinasikan dengan pembatasan makanan, dampaknya bisa lebih besar terhadap keseimbangan hormon. Pastikan mendapatkan tidur 7–9 jam setiap malam dan lakukan aktivitas relaksasi seperti yoga atau meditasi.
5. Hindari Jika Memiliki Riwayat Gangguan Hormon
Perempuan yang memiliki riwayat gangguan tiroid, sindrom ovarium polikistik (PCOS), atau masalah pada siklus menstruasi sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu sebelum memulai intermittent fasting. Setiap kondisi memiliki respons metabolik yang berbeda.
Intermittent fasting memang dapat memberikan berbagai manfaat, seperti membantu dalam pengaturan berat badan dan meningkatkan sensitivitas insulin. Namun, kesehatan hormon tetap harus menjadi prioritas utama. Intinya adalah mendengarkan sinyal tubuh dan tidak memaksakan pola diet yang terlalu ekstrem.












