Panggung musik
Salah satu bagian paling segar dalam buku ini adalah fase masa muda Munir yang lekat dengan semangat Rock n’ Roll. Musik keras, pengeras suara seadanya, dan panggung sederhana di sudut-sudut kota menjadi ruang ekspresi yang membentuk keberanian bersuara.
Rock n’ Roll tidak digambarkan sekadar sebagai genre, melainkan sebagai energi atau daya dobrak terhadap batas, ketakutan, dan keraguan diri. Di tengah keterbatasan, dentuman musik menjadi bahasa perlawanan sekaligus penegasan identitas.
Di situlah letak daya tarik biografi ini. Banyak tokoh pers lahir dari tradisi akademik yang mapan atau aktivisme kampus yang ideologis. Munir justru di tempa oleh atmosfer panggung yang cair dan bebas.
Ia belajar bukan dari ruang kuliah yang tenang, melainkan dari sorotan lampu, riuh penonton, dan dinamika kelompok musik yang menuntut kekompakan sekaligus ketegasan sikap. Dunia itu mungkin tampak jauh dari redaksi, tetapi justru di sanalah fondasi mentalnya di bangun.
Jika di baca lebih dalam, pengalaman bermusik adalah latihan menghadapi publik. Di atas panggung, seorang musisi belajar mengelola emosi, menerima kritik secara langsung, bahkan menghadapi penolakan.
Ia di tuntut tetap berdiri tegak ketika sorakan tak selalu ramah. Ketika kelak memasuki ruang redaksi, pelajaran itu menjelma keberanian menyampaikan fakta, sekalipun tidak populer. Ada kesinambungan antara keberanian memetik gitar di hadapan massa dan keberanian menulis berita yang mungkin mengguncang kepentingan.












