Masyarakat juga diingatkan agar tidak mengabaikan gejala awal DBD dan segera mencari pertolongan medis bila mengalami tanda-tanda mencurigakan.
Menurut Nelli, keterlambatan penanganan masih menjadi salah satu penyebab terjadinya kematian akibat DBD.
Karena itu, kesadaran untuk segera membawa pasien ke fasilitas kesehatan menjadi hal yang sangat penting.
Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, pada tahun 2022 terdapat 210 kasus DBD tanpa korban meninggal dunia.
Jumlah tersebut menurun pada 2023 menjadi 48 kasus, juga tanpa kematian. Namun pada 2024 terjadi lonjakan signifikan dengan 266 kasus disertai empat kematian. Sementara itu, pada 2025 tercatat 85 kasus DBD dengan lima korban meninggal dunia.
Data tersebut menunjukkan bahwa DBD masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat. Dinas Kesehatan pun terus mengimbau warga untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat, rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk, serta menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah utama dalam mencegah penyebaran DBD. (Firman Triadinata)












