Selain itu, Aa juga mengungkapkan keinginannya untuk membeli makanan kesukaannya. Menanggapi hal itu, Sahat memberikan bantuan uang kepada korban. Menurutnya, langkah kecil seperti memenuhi keinginan korban dapat membantu proses pemulihan trauma.
“Korban sendiri yang menyampaikan ingin pindah sekolah, itu wajar karena ada ketakutan yang mendalam. Ibunya pun terlihat sangat terpukul. Saya berikan uang agar bisa digunakan membeli makanan yang dia sukai. Berdasarkan pengalaman, hal-hal sederhana seperti itu bisa membantu pemulihan trauma,” jelas Sahat.
Sahat juga menyayangkan terjadinya peristiwa pengeroyokan tersebut. Ia menilai tindakan itu sama sekali tidak mencerminkan perilaku pelajar maupun nilai-nilai masyarakat yang beradab.
Agar kejadian serupa tidak terulang, Sahat menekankan pentingnya peran keluarga dan lingkungan dalam membentuk karakter anak, tidak hanya mengandalkan sekolah semata.
“Apa yang dipelajari anak di rumah, di lingkungan, termasuk apa yang mereka lihat dari gawai, itu terbawa ke sekolah. Mari kita jaga bersama anak-anak kita sebagai generasi penerus, jangan menyerahkan sepenuhnya pendidikan moral hanya kepada sekolah,” tutup Sahat. (Firman Triadinata)












