Khidmat Tanpa Barongsai
Ada pemandangan berbeda pada perayaan Imlek 2026 ini. Jika tahun-tahun sebelumnya kemeriahan barongsai selalu hadir setelah sembahyang, kali ini atraksi tersebut ditiadakan. Meski tanpa keriuhan barongsai, pelaksanaan ibadah tetap berlangsung lancar, tertib, dan justru terasa lebih mendalam bagi para jemaat.
Suasana terasa kian magis dengan pembacaan paritta atau ayat suci dalam bahasa Mandarin, yang diiringi alunan alat musik tradisional keng.
“Perayaan Imlek bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sarana introspeksi diri agar ke depan kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Romo Sunlie.
Selain mendoakan kesehatan dan keselamatan pribadi, ibadah ini juga dimanfaatkan untuk memanjatkan doa bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Umat turut mendoakan kesejahteraan, kemajuan, serta kedamaian bagi seluruh lapisan masyarakat di Indonesia.
Melalui momentum Tahun Kuda Api ini, Vihara Buddhayana berharap silaturahmi antarumat beragama di Bengkulu semakin erat, menciptakan fondasi sosial yang kokoh demi kemajuan bersama.(Eko PM)












