Puasa Ramadhan adalah kewajiban bagi umat Islam yang telah mukalaf (sudah dianggap baligh dan berakal) dan tidak memiliki uzur syar’i. Kewajiban ini selama 29 atau 30 hari Ramadhan berdasarkan firman Allah Swt. dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Yā ayyuhal-lażīna āmanū kutiba ‘alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alal-lażīna min qablikum la‘allakum tattaqūn(a).
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, kamu diwajibkan untuk berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu diwajibkan, agar kamu menjadi orang yang bertakwa.
Apa saja uzur syar’i yang memberikan izin kepada seorang Muslim untuk mokel puasa di bulan Ramadhan? Mari kita bahas terlebih dahulu hukum mokel puasa yang tidak didukung uzur syar’i.
2. Hukum Mokel Puasa Ramadhan Tanpa Uzur Syar’i
Hukum mengenai mokel puasa Ramadhan tanpa adanya uzur syar’i bagi umat muslim yang sudah mukalaf adalah haram.
Meskipun mereka bisa mengganti puasa Ramadhan di waktu lain, seakan-akan satu tahun berpuasa tidak dapat menebus puasa yang telah ditinggalkan.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Barangsiapa yang tidak berpuasa sehari di bulan Ramadhan tanpa alasan sah yang diberikan oleh Allah ‘azza wa jalla, maka ia tidak akan bisa mengganti hari itu [meskipun ia berpuasa] selama satu tahun,” (H. R. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Khuzaimah).











