Secara spasial, investasi masih terkonsentrasi di Kota Bengkulu, sementara dari sisi sektor didominasi oleh tanaman pangan, perkebunan dan peternakan, industri makanan, perdagangan dan reparasi, serta transportasi dan pergudangan.
“Kondisi ini mengindikasikan perlunya pemerataan investasi antarwilayah serta peningkatan kualitas dan daya saing proyek investasi daerah,” jelas Wahyu.
Bank Indonesia juga menyoroti potensi besar Kawasan Industri Pulau Baai sebagai pusat hilirisasi dan logistik strategis Bengkulu. Namun, pengembangannya masih menghadapi kendala, terutama terkait kelengkapan studi kelayakan dan penyesuaian Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
Untuk itu, BI mendorong percepatan koordinasi antara Pemerintah Provinsi Bengkulu dan Pemerintah Kota Bengkulu agar kawasan industri tersebut dapat segera direalisasikan dan menjadi motor pertumbuhan investasi baru.
Ke depan, arah kebijakan investasi Bengkulu diarahkan pada sektor-sektor prioritas, seperti:
– Hilirisasi dan industri pengolahan.
– Ketahanan pangan dan agroindustri.
– Pengembangan kawasan industri dan kawasan strategis
– Pariwisata berkelanjutan.
Selain itu, penguatan infrastruktur, integrasi kawasan industri dengan pelabuhan, serta percepatan perizinan menjadi faktor kunci dalam meningkatkan daya tarik investasi daerah.












