Di tengah perjalanan menuju tempat Wironini bekerja didapatinya seorang nenek tua yang meminta-minta karena kelaparan.
Di kantongnya Wironini hanya membawa sepotong ketela rebus yang dibawanya dari rumah.
Tak tega melihat nenek tua tersebut maka bekal itu diberikannya. Sang nenek sangat berterima kasih kemudian sebagai imbalannya nenek tersebut memberikan seteguk air putih yang diletakkan dalam kendi yang dia ambil dari sebuah belik atau sumber air di tengah hutan.
Nenek tua itu berpesan agar Wironini menyimpan baik-baik air tersebut serta digunakan hanya setetes saja setiap kali digunakan.
Beliau berpesan kelak suatu saat ketika air kendi sudah habis maka dia tidak perlu mengisinya lagi karena kendi itu akan selalu terisi penuh sesaat habis digunakan.












