<strong>BENGKULUTERKINI.ID</strong> - Bagi penikmat kuliner tradisional, melintasi jalur Lintas Barat Bengkulu bukan sekadar perjalanan biasa. Di sepanjang ruas jalan wilayah Kabupaten Seluma, aroma manis kue tradisional kerap menyapa para pengendara yang melintas. Nah, salah satu yang paling diburu adalah cucur ringgit, jajanan khas Bengkulu yang dikenal sederhana namun kaya rasa. Makanan yang satu ini biasanya banyak di jumpai di kawasan Desa Air Telas, deretan lapak kecil di pinggir jalan kerap menjadi tempat singgah favorit. Untuk harganya sendiri sangat terjangkau dengan harga Rp10 ribu untuk delapan buah cucur ringgit menjadi teman perjalanan yang pas.<!--nextpage--> <strong>Asal dan Bahan Membuat Cucur Ringgit </strong> Cucur ringgit dibuat dari adonan tepung beras yang dipadukan dengan gula merah, gula pasir, dan sejumput garam. Adonan kemudian dituangkan ke minyak panas hingga mengembang sempurna, menghasilkan kue berwarna keemasan dengan bagian luar yang renyah dan bagian dalam yang lembut. Sentuhan aroma pandan membuat cita rasanya semakin menggoda. Nama cucur ringgit sendiri menyimpan makna lokal. Dalam bahasa Serawai, cucur merujuk pada proses menuangkan adonan ke wajan berisi minyak panas. Sementara ringgit menggambarkan bentuk pinggiran kue yang berlekuk dan bergelombang atau oleh warga setempat disebut beringgit.<!--nextpage--> Lebih dari sekadar camilan, cucur ringgit memiliki nilai budaya yang kuat. Kue ini kerap hadir dalam berbagai hajatan adat, mulai dari pernikahan hingga perayaan tradisional, sebagai simbol kehangatan dan kebersamaan. Keberadaannya menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan sejarah kuliner Bengkulu. Bagi pelintas jalur Jalan Lintas Bengkulu–Manna, tak perlu khawatir kehabisan camilan. Lapak-lapak penjual cucur ringgit berjajar rapi di tepi jalan, menyajikan kue dalam balutan plastik bening agar tetap higienis dan terlindung dari debu. Singkatnya, menyempatkan diri berhenti dan mencicipi cucur ringgit adalah cara sederhana menikmati kekayaan rasa Bengkulu. Di balik manisnya kue tradisional ini, tersimpan cerita, budaya, dan keramahan lokal yang layak terus dirawat dan dikenalkan kepada generasi berikutnya.<!--nextpage--> Thesar as Magang